Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

Tekno Inovatif
ktt
300 Teknologi Inovatif

Download

Kalender Kegiatan

NOEVENTS

Semangat Peternak Sapi Dibalik Kondisi Gempa NTB PDF  Array Cetak Array  E-mail
Oleh Sasongko WR, Kaharudin dan Farida S   
Jumat, 24 Agustus 2018 08:37

Gempa bumi panjang telah melanda bumi Nusa Tenggara Barat dengan frekuensi hingga ratusan kali gempa yang menyebabkan trauma berkepanjangan dirasakan oleh masyarakat luas, mungkin tidak hanya di NTB tetapi saudara-saudara kita yang berada di seluruh nusantara.  Masyarakat yang mengalami  gempa bumi tentu menyisakan rasa was-was, rasa sedih yang mendalam karena kehilangan sanak family, rumah tempat tinggal yang rusak dan lainnya.  Tentu pertanyaan yang selalu muncul kapan semua ini dapat kembali normal, kapan dapat memulai untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi.

Dibalik semua yang dirasakan, ternyata masih menyisakan semangat dan harapan peternak di Kelompok Hidup Maju dan Kelompok Bebaturan.  Ternyata nama atau sebutan kedua kelompok mencerminkan jiwa para anggota kelompok tersebut yang tetap ingin maju, yang secara kekeluargaan tetap menumbuhkan semangat dan jiwa yang besar untuk tidak larut dalam menghadapi bencana ini.

Pasca gempa awal Agustus 2018 lalu masih memberikan semangat kedua kelompok untuk tetap berusaha dan tidak memikirkan datangnya bantuan.  Kelompok Hidup Maju dan Kelompok Bebaturan adalah binaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Nusa Tenggara Barat pada kegiatan Pendampingan Kawasan Peternakan dan Kegiatan Kaji Terap. Teknologi Badan Litbang Pertanian yang diterapkan adalah sistem integrasi sapi dengan tanaman jagung.   Pada bulan Mei 2018 kelompok Hidup Maju telah menerapkan teknologi ini.  Kegiatan Kaji Terap Bersama dengan UPTD Kecamatan Wanasaba mengaplikasikan Teknologi PTT Jagung dengan varietas jagung Bima 20 URI produk dari Kegiatan Perbenihan BPTP Balitbangtan NTB. Teknologi jarak tanam yang diterapkan: Single Row 5 biji benih jagung per lubang tanam dan Double Row dengan 2 dan 3 biji per lubang tanam, dapat menghasilkan biomasa untuk pakan sapi.  Menurut peternak anggota kelompok Hidup Maju, sejak bulan Puasa (Mei 2018) hingga sekarang masih memiliki pakan sapi yang berasal dari biomasa tanaman jagung sampai pada limbah klobot jagung dan pucuk tanaman jagung sisa panen.

Dari penerapan teknologi oleh kelompok Hidup Maju ini telah menyebar (terdiseminasi) pada kelompok-kelompok di sekitarnya seperti kelompok Sambuk Manis (binaan BPTP Balitbangtan NTB tahun 2017), Kelompok Ober-Ober, Montong Mentagi (bunaan BPTP Balitbangtan NTB tahun 2017), dan Kelompok Hidup Maju sendiri (anggota yang lain) mencapai total luasan untuk tanam jagung seluas 5,587 ha.  Produksi biomasa tanaman jagung berkisar antara 1,2 – 3,2 t/ha untuk biomasa umur tanam 35 – 85 hari (hasil penerapan teknologi tanam jagung oleh peternak Hidup Maju pda MK 1 tahun 2018).

Peternak/petani yang telah panen jagung masih memiliki sumber pakan limbah tanaman jagung berupa bagian tanaman jagung (pucuk) dan kelobot jagung.  Mereka menyatakan bahwa “Jagung ini (Varietas Bima 20 maksudnya) hampir seluruhnya dapat dimanfaatkan baik untuk pakan sapi dan pangan manusia”  pada saat jagung berumur 85 hari, tanaman telah memiliki produksi “jagung muda”.  Jagung muda memiliki nilai jual yang cukup baik untuk kebutuhan camilan jagung rebus, jagung bakar atau masakan.  Jagung muda di pasaran tradisional harganya Rp 5.000 per 3 tongkol; sedangkan yang sudah direbus Rp 5.000 per 2 tongkol dan Rp 5.000 per tongkol untuk yang dibakar.  Sebagian peternak/petani menyampaikan jagung muda juga untuk dikonsumsi sendiri.

Oleh karena itu pada saat terjadi gempa yang menimpa wilayah mereka : Kelompok Hidup Maju berada di Desa Karang Baru, Kabupaten Lombok Timur, dimana letak lokasi desa tidak terlalu jauh dari sumber gempa yaitu Sembalun.   Pada saat tim pengkaji kegiatan Pendampingan Pengembangan Kawasan Peternakan yang datang untuk melakukan monitoring dan untuk merencanakan kegiatan selanjutnya bertemu langsung dengan ketua kelompok dan beberapa anggota yang berada di kandang kelompok.  Mereka terlihat bersemangat dan meminta agar BPTP Balitbangtan NTB tetap melakukan pembinaan pada kelompok mereka; yang sangat hebat adalah mereka tidak menyinggung bantuan untuk korban gempa, fokus pembicaraan (diskusi) diseputaran kegiatan usaha tani dan usaha ternak mereka.   Kendala yang dihadapi oleh kelompok Bebaturan saat ini adalah sumber-sumber pakan yang terbatas, mereka menginginkan pelatihan pengawetan pakan khususnya untuk penyimpanan jerami padi. Sedangkan untuk kelompok Hidup Maju yang telah menanam jagung untuk pakan dan pangan tidak mengalami persoalan kekurangan pakan.

Untuk pengembangan kawasan peternakan sapi terutama yang memiliki usaha ternak pembibitan dapat mengadopsi teknologi sistem integrasi sapi dengan jagung, karena kandungan nutrisi biomasa jagung lebih baik dari pada limbah tanaman pangan seperti jerami padi.  Jumlah biomasa yang baik dapat diandalkan sebagai sumber pakan.  Sistem integrasi dapat lebih mengefisiensikan tenaga kerja terutama untuk aktivitas di lahan jagung dan di usaha ternak sapi.  Untuk mencari rumput alam peternak setidaknya harus meluangkan waktu 2-3 jam/hari. Jika dengan memanfaatkan biomasa jagung peternak hanya membutuhkan waktu maksimal setengahnya.  Untuk menjadikan sebagai teknologi spesifik lokasi perlu dilakukan pendataan yang lebih rinci sehingga dapat memberikan simpulan yang dapat direkomendasikan untuk wilayah-wilayah pengembangan peterakan sapi di wilayah lainnya.

 

Video

Joomla Templates by JoomlaVision.com