Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

Tekno Inovatif
ktt
300 Teknologi Inovatif

Download

Kalender Kegiatan

NOEVENTS

Berita

Berita Lainnya
Pisang Haji Sumberdaya Genetik Tanaman Lokal NTB PDF  Array Cetak Array  E-mail
Oleh Fitrahtunnisa   
Senin, 10 April 2017 13:39

Pisang haji dengan sebutan lain pisang Sambelia, atau pisang Bile Mandar merupakan pisang lokal Lombok - NTB yang memiliki sejarah dalam penamaannya. Pisang ini dinamakan sebagai pisang haji karena berpuluh-puluh tahun yang lalu pisang ini merupakan bekal bagi para calon jemaah haji yang menggunakan kapal laut untuk berlayar menuju Tanah Suci Mekkah. Pisang ini dipilih sebagai bekal dalam perjalalanan berhaji karena memiliki daya simpan yang lebih lama dibanding buah-buah pisang yang lain.

Tanaman pisang haji tersebar di beberapa daerah di Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Utara (KLU) dan Kabupaten Lombok Timur. Meskipun ditemukan di beberapa daerah di ketiga Kabupaten tersebut namun populasinya di tiap daerah sangat sedikit. Berdasarkan informasi hasil survey dan wawancara dengan masyarakat setempat, hal ini disebabkan karena pisang haji kurang diminati jika dibandingkan dengan pisang kepok, karena pisang kepok memiliki banyak pilihan untuk mengkonsumsinya artinya bisa dijadikan pisang meja dan pisang olahan, sedangkan pisang haji hanya merupakan pisang meja.

Dengan alasan tersebut maka pisang haji tidak begitu bernilai secara ekonomi sehingga tidak banyak ditanam oleh petani, kalaupun ditanam mereka menanamnya di daerah hutan di gunung yang jauh dari pemukiman, sementara pisang-pisang lain ditanam dipekarangan rumah atau di lahan yang tidak jauh dengan pemukiman.

Sepintas, pisang haji tidak jauh berbeda dengan pisang kepok (Sasak : pisang kepok = pisang saba). Untuk membedakannya dapat dilihat dari ujung buah, dimana pisang kepok memiliki bentuk yang “berkotak” dan ujung buah yang agak meruncing sedangkan pisang haji buahnya cenderng “membulat” dan ujungnya tumpul (Gambar 1).

Dari segi warna daging buah, pisang haji memiliki warna lebih orange dibanding pisang kepok, yang warnanya putih kekuningan (Gambar 2). Hal ini mengindikasikan bahwa pisang haji memiliki kandungan senyawa karoten yang tinggi, yang berarti sangat baik untuk dikonsumsi dan bermanfaat untuk kesehatan mata.

Dari segi rasa, pisang haji tidak jauh berbeda dengan pisang kepok, rasanya manis namun teksturnya lebih kenyal. Selain mengandung senyawa karoten, pisang haji juga memliki keunggulan pada daya simpan. Daging buah pisang haji setelah disimpan selama 20 hari pada suhu kamar masih baik (tidak berair) meskipun kulit buah mulai menghitam dan mengkerut (Gambar 3).

Dalam satu tandan pisang haji memiliki 5 – 7 sisir, satu sisir terdiri dari 18 – 20 buah (Gambar 4.). Di BPTP NTB pisang haji telah dicoba diolah menjadi pisang goreng, sale pisang, dan banana cake. Rasa dan tekstur dari olahan-olahan tersebut tidak kalah enaknya dengan hasil olahan dari pisang kepok. Hal ini membuktikan bahwa selain sebagai pisang meja, pisang haji juga dapat dimanfaatkan sebagai pisang olahan sehingga menambah referensi bagi masyarakat pada umumnya bahwa pisang haji layak untuk diusahakan.

Saat ini di Jawa Timur, pisang haji sudah dibudidayakan dan diolah menjadi produk Sale Pisang untuk diekspor ke Jepang. Oleh karena itu, penting sekali untuk segera mendaftarkan pisang haji sebagai kekayaan sumberdaya genetik asli NTB untuk menghindari hal-hal yang tidak diharapkan dikemudian hari.

 

Video

Joomla Templates by JoomlaVision.com