Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

Tekno Inovatif
ktt
300 Teknologi Inovatif

Download

Kalender Kegiatan

NOEVENTS

Berita

Berita Lainnya
Potensi Pengairan Sumur Dangkal Di Lahan Tadah Hujan Untuk Adaptasi Perubahan Iklim Di NTB PDF Cetak E-mail
Oleh Ahmad Suriadi, Moh. Nazam, dan Fitria Zulhaedar   

Pertanian adalah salah satu sektor yang rentan dan potensial terkena dampak perubahan iklim. Adanya variasi hujan tahunan dan antar tahun sangat mempengaruhi sistem pertanian di Indonesia. Wilayah Indonesia yang berada pada lintang utara diprediksi akan mengalami lebih banyak hujan dengan perubahan 2-3 persen pertahun. Sedangkan keadaan ini akan berbalik pada wilayah Indonesia yang berada pada lintang selatan (BMKG 2011). Ini menunjukkan bahwa wilayah NTB diprediksi akan mengalami penurunan jumlah hujan. Dampak yang nyata dari perubahan iklim ini adalah meningkatnya resiko kekeringan dan secara umum akan memicu kemarau panjang. Lahan tadah hujan merupakan sumber daya fisik yang potensial untuk pengembangan pertanian seperti padi, palawija, dan tanaman hortikultura. Namun demikian lahan ini sangat rentan terhadap perubahan iklim sehingga produktivitasya juga sangat ditentukan oleh curah hujan. Salah satu usaha yang sangat potensi untuk diterapkan dilahan tadah hujan adalah dengan membuat sumur dangkal disetiap lahan petani untuk menampung kelebihan air hujan pada musim penghujan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi pengairan sumur dangkal di lahan tadah hujan yang berkelanjutan untuk mengantisipasi perubahan iklim. Lokasi pengkajian terletak di Desa Gapura Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah, merupakan hamparan lahan tadah hujan dengan tanah yang didominasi oleh vertsiols.Volume air sumur yang dibuat sebanyak 5 buah (diameter 1,5 meter dan dalam sumur 7-9 meter) bervariasi pada setiap sumur dan setiap bulan. Secara umum, ada kecenderungan volume sumur menurun setiap bulan dan hal ini dapat dipahami bahwa mata air sumur tersebut berasal dari mata air permukaan sehingga besar kecilnya mata air tersebut sangat ditentukan oleh curah hujan yang ada di sekitar lokasi tersebut.Namun demikian penurunan volume tersebut tidak berbeda jauh.Volume air sumur bulan Mei pada masing-masing petani kooperator adalah 4,70 m3, 4,40 m3, 3,06 m3, 2,30 m3 dan 2,14m3, sedangkan pada bulan Oktober.adalah 3,46 m3, 3,43 m3, 2,23 m3, 1,41 m3 dan1,77 m3. Rata-rata penurunan volume sumur setiap bulan untuk semua sumur yang dibuat adalah 0,14 m3. Demikian juga kapasitas recharge sumur berbeda-beda dan kapasitas recharge yang paling tinggi diperoleh pada sumur Aq. Eko dan diikuti pada sumur H Mukarap, Irwanto, H Suman dan Aq. Uda. Hasil pumping test dari bulan Mei 2012 sampai bulan Oktober 2012 menunjukan debit pada awal pengisian sumur cukup tinggi, namun melandai pada dua jam selanjutnya dan secara umum waktu yang diperlukan untuk mencapai volume semula sumur setelah dikuras ratarata 2 hari. Dengan demikian potensi volume air sumur yang dapat digunakan untuk mengairi tanaman dari bulan Mei sampai Oktober adalah 354,1; 368,9; 242,5,;183,8 dan 187,1 pada sumur Aq. Uda, Aq Eko, H. Mukarap, Irwanto dan H.Suman.

Kata kunci: Sumur dangkal, tadah hujan, perubahan iklim, kapasitas recharge

+ Selengkapnya...

 

Video

Joomla Templates by JoomlaVision.com